RSS

PENGARUH PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP KETAATAN SISWA PADA PERATURAN SEKOLAH DI MADRASAH TSANAWIYAH AL – MUJAHIDIN DESA LAHANG BARU KECAMATAN GAUNG

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Belajar adalah usaha untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya adalah, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar, tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.[1]

Adapun belajar menurut Oemar Hamalik adalah ”Modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”.[2]

Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang selalu berinteraksi didalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah metode pembelajaran. Setiap guru yang akan mengajar, harus selalu membuat perencanaan, salah satu yang harus dilakukan adalah mampu membuat peserta didik senang dengan suasana belajar, melalui metode yang menarik. Penggunaan metode belajar bertujuan membantu guru dalam menyampaikan materi agar mudah di tangkap oleh peserta didiknya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi motivasi yang kuat dalam proses belajar anak.

Peran Guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah relatif tinggi, peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. pada jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama dan Sekolah lanjutan tingkat atas peran guru tergolong tinggi, bila siswa menyadari betapa pentingnya belajar bagi hidupnya dikemudian hari. Adanya gejala membolos sekolah, malas belajar, senda gurau ketika guru menjelaskan bahan ajar sukar misalnya, merupakan ketidak sadaran siswa akan belajar.[3]

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, para guru sering lupa melihat aspek psikologi peserta didik, khususnya tahap perkembangan kognitif peserta didik. Proses pembelajaran kadang tidak disukai dan ditangkap oleh peserta didik karena tidak sesuai dengan suasana yang peserta didik inginkan di usianya. Pembelajaran yang tidak memperhatikan kondisi perkembangan kognitif peserta didik cenderung hanya sekedar melaksanakan rutinitas belaka.

Mata pelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung kemampuan seseorang dalam hal hukum Islam. Fiqih berfungsi sebagai landasan seorang muslim apabila akan melakukan praktek ibadah, oleh karena itulah mata pelajaran fiqih penting mendapat perhatian yang besar bagi seorang anak di usia dini, agar kedepannya dia akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum Islam yang ada.

Di lihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqih itu ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan hukum Islam  yang bersumber dari Al-qur’an, sunnah dan dalil-dalil syar’i yang lain.[4]

Pembelajaran fiqih membantu siswa untuk meningkatkan ketaatan pada peraturan sekolah, dikarenakan fiqih adalah materi yang secara substansial sangat penting, karena fiqih adalah pedoman hidup umat yakni berhubungan dengan aktifitas sehari-hari dan berkaitan dengan hukum-hukum pelaksanaan sehari-hari, misalnya hukum shalat, puasa, dan masih banyak lagi. maka ilmu-ilmu yang berkaitan dengan fiqih harus dikembangkan dan di kemas dengan baik dan menarik. Karena ilmu ini sangat penting sekali dalam penerapan hukum-hukum didalam islam. Pengaruh yang ditimbulkan oleh pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa akan mendorong siswa untuk belajar fiqih baik secara berkelompok maupun secara individu. Dengan demikian siswa yang tidak menyukai pelajaran ini akan terdorong oleh temannya untuk mempelajarinya.

Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan dapat diketahui bahwa guru-guru dan siswa di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Al Mujahidin Desa Lahang Baru Kecamatan Gaung sudah melakukan tugasnya sebagaimana mestinya, namun dalam pelaksanaan tersebut masih  terdapat permasalahan yang dapat di lihat dari gejala-gejala berikut ini:

  1. Guru fiqih masih jarang dalam pembelajaran menggunakan alat peraga yang sudah tersedia.
  2. Guru fiqih masih jarang dalam proses belajar mengajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
  3. Guru fiqih belum membuat program pembelajaran.
  4.  Masih ditemukan siswa yang kurang memahami tentang peraturan sekolah.
  5. Masih ditemukan siswa yang belum mentaati peraturan sekolah.

Dari permasalahan tersebut, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan mengangkat judul “PENGARUH PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP KETAATAN SISWA PADA PERATURAN SEKOLAH DI MADRASAH TSANAWIYAH AL MUJAHIDIN DESA LAHANG BARU KECAMATAN GAUNG”.

 

B. Asumsi dan Hipotesa

1.    Asumsi

Adapun pengertian asumsi atau anggapan dasar menurut Winarno Surakhmad seperti yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto adalah “Sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya di terima oleh penyelidik”.[10]

Adapun Asumsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut;

a.    Pembelajaran fiqih.

b.    Ketaatan siswa pada peraturan sekolah

c.    Pengaruh pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan Sekolah.

2.    Hipotesa

Adapun pengertian Hipotesa menurut S. Nasution, adalah “pernyataan tentative yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya”.[11]

Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H:  Ada pengaruh yang signifikan antara pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan sekolah.

H:  Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan sekolah.

 


[1]Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hlm. 7.

[2]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi aksara, 2010), Hlm. 27.

[3]Dimyati dan Mudjiono, Op.Cit. Hlm. 33.

[4]Zakiah Daradjat dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), Hlm. 78.

[5]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2002), Hlm. 747.

[6]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005), hal, 17

[7]Wirawan Sarlito, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), Hlm. 54.

[8]Kelvin seifert, Manajemen Pembelajaran & Instruksi Pendidikan, (Jogjakarta: IRCISoD, 2003), Hlm. 221.

[9]Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008. Hlm. 104.

[10]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Hlm. 104.

[11]S. Nasution, Metode Reseach (Penelitian Ilmiah), (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Hlm. 39.


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 18, 2012 in Uncategorized

 

STRATEGI PENGELOLAAN KELAS OLEH GURU AQIDAH AKHLAK

 

A.     Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan suatu organisasi yang menyelenggarakan pendidikan secara formal bagi peserta didik. Namun sekolah bukan satu-satunya yang menyelenggarakan pendidikan, karena masih ada institusi yang lain yaitu keluarga dan pendidikan luar sekolah. Untuk dapat mengoptimalisasi pendidikan peserta didik, maka diperlukan kolaborasi, bukannya menyerahkan pendidikan peserta didik pada sekolah saja.

Menurut Harun rasyid dan Mansur Sekolah merupakan pusat kegiatan belajar mengajar dalam proses pendidikan. baik buruknya kualitas pendidikan, dapat dilihat dari tingkat kualitas sekolah. Semakin baik kualitas sekolah, maka semakin baik pula kualitas pendidikan. Begitu juga sebaliknya. Itu berarti bahwa Sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam upaya peningkatan kualitas belajar siswa.[1]

Ketika kondisi sekolah semakin kompleks, ukuran rombongan belajar semakin membengkak, beban mengajar dan belajar semakin rumit, sumber dan fasilitas pembelajaran semakin modern, tingkat stress dan kenakalan siswa semakin menggejala, dan prosedur kerja makin perlu dipercanggih. Maka disinilah peran seorang tenaga pendidik dan pengajar yang handal diperlukan untuk menutupi kekurangan yang ada pada pihak sekolah baik berupa sarana dan prasarana.  

Keberadaan pendidikan dasar sebagai fondasi dari semua jenjang pendidikan yang ada, yang tersebar dari kota hingga desa terpencil semestinya memiliki kekuatan. Pendidikan dasar merupakan kekuatan yang dapat mengantarkan anak ketingkat pendidikan selanjutnya dan kekuatan untuk dapat mengembangkan anak menjadi manusia seutuhnya.[2]

Pendidikan Agama merupakan pelajaran yang wajib ada pada setiap jenjang pendidikan khususnya di tingkat sekolah dasar. Jika ilmu agama sudah tertanam pada setiap diri anak didik, maka ilmu agama itu akan menjadi benteng dan kontrol setiap aktivitasnya yang berhubungan dengan lingkungannya lebih-lebih dengan Tuhannya.

Peranan guru sebagai manajer dalam proses belajar mengajar dalam kelas adalah salah satu faktor yang penting dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Guru sebagai pekerja profesional dituntut harus bisa menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan, yakni dengan cara mengelola kelas dengan sebaik-baiknya agar dapat menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang optimal bagi tercapainya tujuan pengajaran.

Langkah yang dapat dilakukan agar dapat tercapai tujuan pembelajaran adalah  melaksanakan  pengembangan  dalam  pengajaran  dan  pembelajaran. Salah satunya dengan menggunakan alat peraga atau prototype subyek/obyek materi sebagai alat bantu siswa dalam memahami konsep-konsep, serta pembenahan  sistem  ventilasi  kelas  agar  tercipta  lingkungan  kelas  yang nyaman,  praktik  lapangan,  pembentukan  kelompok  belajar,  dan  diharapkan pengembangan  pembelajaran  serta  pengajaran  tersebut  siswa  dapat  lebih memahami dengan baik materi pelajaran Akidah Akhlak yang disampaikan oleh guru.

Dengan melihat konteks  tersebut  pengelolaan  kelas dapat dipandang sebagai suatu usaha yang sangat penting dan harus mendapat prioritas oleh  seorang guru dalam berbagai macam aktivitas  yang berkaitan dengan kurikulum dan  perkembangan  siswa. Upaya yang dilakukan adalah dengan  pemberian kepada siswa untuk  melaksanakan  kegiatan  yang  kreatif  dan  terarah. Mata pelajaran Akidah Akhlak merupakan  wahana untuk meningkatkan pengetahuan, keteram-pilan,  sikap,  dan  nilai  serta  tanggung  jawab  sebagai seorang  manusia  yang  bertanggung  jawab  kepada  sang pencipta dan sesame manusia,

Untuk meningkatkan hasil belajar Mata Pelajaran Akidah Akhlak siswa, dapat  diwujudkan dengan pengelolaan kelas yang  berorientasi  pada  siswa  artinya  guru  harus memberi penekanan dan pengalaman secara langsung serta merancang proses belajar  mengajar  di  kelas  yang  memberi  banyak  kesempatan  kepada  siswa  untuk  mengembangkan  pengetahuan  dan  menerapkan  hal-hal  yang  telah dipelajarinya.  Maka sudah seharusnya seorang guru dituntut untuk menguasai berbagai kompetensi dalam melaksanakan profesi keguruannya agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang baik bagi peserta didik, sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan optimal. Keberhasilan dalam pembelajaran mempunyai beberapa kriteria, kriteria yang dimaksudkan di sini yakni sebagai ukuran atau patokan dalam menentukan suatu keberhasilan dalam mengajar.

Menurut Zakiah Daradjar, ddk, guru sebagai bagian dari situasi belajar mengajar cenderung untuk mengambil keputusan-keputusan berbeda dengan guru lainnya, Namun kadang-kadang sukar untuk meyakinkan guru-guru bahwa dengan keputusannya yang berbeda itu tidaklah berarti bahwa yang satu benar dan yang lainnya salah. Agaknya lebih cocok dikemukakan bahwa keputusan yang satu lebih baik dari yang lain yang kelak akan terbukti dari pengalaman. Tentu saja keputusan-keputusan yang diambil dipertimbangkan secara rasional.[3]  

B.     Alasan Memilih Judul

Penulis memilih judul ini karena berdasarkan beberapa pertimbangan:

  1. Judul ini ada hubungannya dengan peneliti sebagai calon pendidik,
  2.  Adanya teori-teori yang menunjang Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak
  3. Peneliti ingin memberikan informasi yang kiranya dapat berguna dalam kemajuan dan perkembangan dunia pendidikan khususnya strategi dalam mengelola kelas.
  4. Sepengetahuan penulis permasalahan dalam penelitian ini belum pernah diangkat sebelumnya.

C.     Penegasan Istilah

Sebelum penulis melanjutkan penulisan skripsi ini, penulis memandang perlu untuk memberikan penegasan berupa istilah yang terdapat dalam penulisan skripsi ini.

Adapun istilah yang penulis pandang perlu untuk ditegaskan Yaitu :

1.    Pengelolaan Iklim Kelas

Pengertian Pengelolaan Iklim kelas adalah sebagai berikut:

Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Ketika kelas terganggu, guru berusaha mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar”.[4]

Jadi yang dimaksud pengelolaan iklim kelas dalam penelitian ini adalah upaya seorang guru dalam mendayagunakan potensi kelas, agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar,

2.    Guru

Pengertian Guru menurut Zakiah Daradjat dkk, adalah “Seorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang dapat memudahkan dalam peranannya memimbing muridnya”.[5]

Guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seseorang yang mempunyai keahlian dalam proses belajar mengajar

3.     Mata Pelajaran Akidah Akhlak

Pengertian Mata Pelajaran Akidah Akhlak adalah :

Upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,  menghayati  dan mengimani Allah SWT. dan  merealisasikannya  dalam  perilaku  akhlak  mulia dalam kehidupan sehari-hari  melalui  kegiatan  bimbingan, pengajaran,  latihan, penggunaan pengalaman,  keteladanan  dan  pembiasaan.[6]

Akidah Akhlak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sebuah mata pelajaran yang diterapkan oleh guru di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan tanah Merah.

D.     Permasalahan

1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan pengamatan pra penelitian dan melihat latar belakang masalah di atas, maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.
  2. Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.
  3. Guru Akidah Akhlak tidak menegur siswa yang ribut.
  4. Tempat duduk belum sesuai dengan postur tubuh siswa.
  5. Ruangan kelas belum tertata rapi.

2. Batasan Masalah

Batasan masalah yang peneliti lakukan agar tidak terjadi penyimpangan permasalahan yang peneliti maksudkan, maka dengan ini peneliti membatasi masalah hanya pada Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.

3. Rumusan Masalah

Berpijak pada latar belakang masalah, maka peneliti membuat rumusan masalah sebagai berikut:

a. Bagaimana Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.?

b. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.?

E.  Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a.  Untuk mengetahui Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.

b.  Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Pengelolaan Iklim Kelas oleh Guru Akidah Akhlak di Madrasah Tsanawiyah Nailul Amani Tanjung Baru Kecamatan Tanah Merah.

2.  Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :

a.  Bagi Penulis

1)  Menambah wawasan bagi penulis, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dan dapat mengetahui bagaimana sebuah Pengelolaan Iklim kelas yang di lakukan oleh seorang Guru khususnya Guru Akidah Akhlak.

2)  Untuk menyelesaikan study akhir dalam meraih gelar sarjana pada program studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan.

b.  Bagi Guru

1)  Agar para Guru senantiasa berusaha mening-katkan kemampuan dibidang Pengelolaan iklim kelas.

2)  Sebagai informasi bagi guru bahwa sebuah strategi sangat diperlukan dalam Pengelolaan iklim kelas.

 c.  Bagi Sekolah

1)  Memberikan masukan pada sekolah agar selalu meningkatkan kemampuan para guru dalam pengelolaan Iklim kelas.

2)  Guna terciptanya guru-guru yang berkualitas dan mempunyai efektivitas yang tinggi sehingga mampu mengangkat nama baik sekolah.

 


[1]Drs.Harun Rasyid Mansur., Penilaian Hasil Belajar (Bandung: Cv wacana prima, 2008), hlm. 53.

[2]Dewi Utama Faizah., Belajar Mengajar yang Menyenangkan. (Solo: Tiga Serangkai, 2004), hlm. 4.

[3]Dr, Zakiah daradjar, ddk., Metodologi Pengajaran Agama Islam. (Jakarta: Bumi aksara, 2001), hlm. 266.

[4]Drs. Syaiful Bahri Djamarah, M,Ag dan Drs, Aswan Zain., Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010,), hlm. 174.

[5]Dr. Zakiah Daradjat., dkk, Metodologi Pengajaran Agama Islam, OP.CIT, hlm. 266.

[6]H. Moh. Ardani., Akhlak-Tasawuf, (Jakarta: CV. Karya Mulia, 2005), hlm. 27.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 1, 2012 in Uncategorized

 

KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

 

Judul

KOMPUTER SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

A.  Latar Belakang Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya–upaya pembaruan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses belajar. Para guru dituntut agar mampu menggunakan alat-alat yang dapat disediakan oleh sekolah, dan tidak tertutup kemungkinan bahwa alat-alat tersebut sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman, guru sekurang-kurangnya dapat menggunakan alat-alat yang murah dan efisien yang meskipun sederhana dan bersahaja tetapi merupakan keharusan dalam upaya pencapaian tujuan pengajaran yang diharapkan, disamping mampu menggunakan alat-alat yang tersedia, Guru juga dituntut untuk dapat mengembangkan keterampilan membuat media pembelajaran yang akan digunakannya apabila media tersebut belum tersedia.[1]

Sejak awal mula pendidikan senantiasa bersikap terbuka terhadap penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi. Hal ini mempunyai maksud bahwa sistem pendidikan yang tidak mau dan kurang bisa menyelaraskan diri dengan kemajuan teknologi tersebut, maka sistem pendidikan tersebut akan ketinggalan zaman. Sistem pendidikan yang monoton dan stagnan tentu tidak lagi relevan dan integral dengan kemajuan yang telah diperoleh dunia.

Dalam Undang-undang no 20 Tahun 2003 pasal 1 butir 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional di jelaskan bahwa Pendidikan adalah:

Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengambangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keperibadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[2]

Upaya peningkatan kualitas pendidikan harus lebih banyak dilakukan pengajar dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik. Salah satu upaya untuk peningkatan proses pembelajaran adalah penggunaan media secara efektif, ini akan mempertinggi kualitas yang akhirnya dapat meningkatkan kualitas hasil belajar.

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas pembelajaran yang dilaksanakannya. Untuk memenuhi hal tersebut diatas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa agar siswa termotivasi dalam proses belajar mengajar. Adapun guru menurut undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen adalah;

Pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah”.[3]

Untuk mengupayakan pendidikan yang berkualitas, guru seringkali menemukan kesulitan dalam memberikan materi pembelajaran. Khususnya bagi Guru Pendidikan Agama Islam, dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah masih menunjukkan kekurangan dan keterbatasan. Terutama dalam kualitas proses belajar mengajar yang dikembangkannya yang selanjutnya berakibat langsung kepada rendah dan tidak meratanya kualitas hasil yang dicapai oleh para siswa, serta kemampuan dalam menggunakan berbagai media pembelajaran Pendidikan Agama Islam khususnya yang berbantukan dengan media teknologi komputer.

Di dalam Garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Agama Islam, di jelaskan bahwa Pendidikan Agama Islam adalah;

Usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan  persatuan nasional.[4]

 

Materi pelajaran Pendidikan Agama Islam sarat dengan nilai-nilai bagi pembentukan pribadi muslim, namun apabila materi itu disajikan dengan cara yang kurang tepat, tidak mustahil akan timbul pada diri siswa rasa tidak senang terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam dan bahkan juga terhadap gurunya. Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan demikian adalah penggunaan media pembelajaran secara terintegrasi dalam proses belajar mengajar. Sebagai guru Pendidikan Agama Islam tampaknya dalam mempengaruhi siswa untuk dapat mempelajari dan memahami ajaran Islam sesuai dengan kemampuan nalar manusia terhadap wahyu Allah dan RasulNya perlu dibantu dengan menggunakan media pembelajaran yang dipersiapkan dengan baik, berarti Guru Pendidikan Agama Islam telah membantu siswanya mengaktifkan unsur-unsur psikologis yang ada dalam diri mereka seperti pengamatan, daya ingat, minat, perhatian, berpikir, fantasi, emosi dan perkembangan kepribadian mereka. Sikap jiwa mereka yang tenang dengan minat belajar yang besar sangat potensial sekali ditumbuh kembangkan sebagai dasar materi keimanan, ibadah, sikap sosial, pembentukan akhlak karimah dan sebagainya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam bukan sekedar upaya untuk membantu guru dalam mengajar, tetapi lebih dari itu sebagai usaha yang ditujukan untuk memudahkan siswa dalam mempelajari dan memahami pengajaran agama. Akhirnya media komputer memang pantas digunakan oleh Guru Pendidikan Agama Islam, bukan hanya sekedar alat bantu mengajar bagi guru, namun diharapkan akan timbul kesadaran baru bahwa media pembelajaran telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan agama sehingga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk membantu lancarnya bidang tugas yang diemban untuk kemajuan dan meningkatkan kualitas peserta didik.

B.  Alasan Memilih Judul

Adapun Pemilihan Judul ini dilandasi oleh beberapa alasan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi komputer penting digunakan sebagai media dalam pembelajaran.
  2. Judul dan permasalahan ini masih aktual dan relevan untuk di teliti.
  3. Adanya teori-teori yang mendukung dan menjawab berbagai variabel-variabel penelitian
  4. Tersedianya buku-buku sebagai penunjang penelitian ini.
  5. Sepanjang pengetahuan penulis permasalahan dalam penelitian ini belum pernah diangkat sebelumnya.

 

C.  Penjelasan Istilah

Untuk menghindari kesalahfahaman dalam menafsirkan judul penelitian ini, maka penulis akan menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul.

Adapun istilah-istilah yang dapat penulis jelaskan adalah sebagai berikut:

1.  Komputer

Adapun Pengertian komputer menurut Ahmad Yani adalah sebagai berikut;

Seperangkat alat elektronik yang dihubungkan dengan listrik yang berguna untuk membantu pekerjaan manusia agar lebih mudah, cepat dan akurat. Computer juga sebagai alat informasi dan komunikasi yangf mampu mengolah data dan kemudian menyimpannya.[5]

Sedangkan yang dimaksud dengan komputer dalam penelitian ini adalah suatu alat yang terdiri dari beberapa kompunen untuk mengolah data dalam presentase untuk membantu proses pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan.

2.  Media Pembelajaran

Adapun Pengertian Media Pembelajaran menurut Rudi susilana dan Cepi Riyani adalah “Teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran”.[6]

Sedangkan yang dimaksud media pembelajaran dalam penelitian ini adalah sebuah alat pembelajaran yang berbantukan komputer yang di gunakan oleh guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan.

3.  Guru Pendidikan Agama Islam

Guru Pendidikan Agama Islam menurut Pupuh Fathurrahman adalah “orang yang memberikan materi pengetahuan Agama Islam dan juga mendidik murid-muridnya, agar mereka kelak menjadi manusia yang takwa kepada Allah SWT”.[7]

Sedangkan yang di maksud guru Pendidikan Agama Islam dalam penelitian ini adalah seorang pembimbing agar para murid dapat bertindak dengan prinsip-prinsip Islam dan dapat mempraktikkan syariat Islam diSekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan.

D.  Permasalahan

1.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan dari latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut;

a.  Bagaimana Penggunaan Komputer sebagai Media dalam Pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan?

b.  Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran?

c.  Bagaimana upaya untuk meningkatkan pemahaman tentang penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran?

d.  Bagaimana pengaruh penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran terhadap hasil belajar siswa?

2.  Batasan Masalah

Mengacu pada masalah di atas, maka permasalahan yang diuraikan dalam penelitian ini dibatasi hanya pada penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan.

 

3.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penulis akan merumuskan masalahnya adalah sebagai berikut;

a.  Bagaimana penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Negeri 1 Tembilahan?

b.  Apa Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran oleh guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan?

 

E.  Tujuan dan manfaat Penelitian

Adapun tujuan dan manfaat Penelitian Ini adalah sebagai berikut;

1.  Tujuan penelitian.

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai beikut:

a.  Untuk mengetahui bagaimana pengunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam disekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan,

b.  Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengunaan komputer sebagai media dalam pembelajaran oleh Guru Pendidikan Agama Islam disekolah Menengah Atas Negeri 1 Tembilahan.

 

2.  Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut;

a.  Bagi Guru

Adapun manfaat penelitian bagi guru adalah sebagai berikut:

  1. Agar terjadinya suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.
  2. Mempermudah bagi Guru dalam penyampaian materi.
  3. Memberi gambaran terhadap Guru akan pentingnya penggunaan Komputer sebagai media dalam pembelajaran.
  4. Agar Guru bisa mengembangkan kemampuannya dibidang Teknologi, khususnya Teknologi yang berkaitan dengan Media Komputer.

b.  Bagi Siswa

Adapun manfaat penelitian bagi siswa adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan kegairahan siswa dalam pembelajaran.
  2. Agar mudah memahami materi yang diajarkan.
  3. Membuat siswa lebih respon dalam pembelajaran.
  4.  Membuat siswa lebih bersemangat dalam pembelajaran.

c.  Bagi Sekolah

Adapun manfaat penelitian bagi sekolah adalah sebagai berikut;

  1. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam Penggunaaan Komputer yang dipersiapkan oleh pendidik bagi para siswa untuk mengatasi adanya kekurangan-kekurangan penguasaan Komputer.
  2. Terciptanya pola pendidikan yang sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  3. Menjadi bahan masukan dalam merumuskan konsep atau format pendidikan yang memahami realitas, sosiokultur di tengah pendidikan.

 

d.  Bagi Penulis

Adapun manfaat penelitian bagi penulis adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai sarana untuk menerapkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di dunia nyata dan dapat digunakan sebagai landasan dan kerangka perumusan masalah untuk penelitian selanjutnya.
  2. Untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang media pendidikan yang mengacu pada teknologi
  3. Menambah wawasan bagi penulis, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan, dan dapat mengetahui bagaimana sebuah media komputer bisa mempengaruhi proses belajar mengajar.
  4. Untuk menyelesaikan studi akhir dalam meraih gelar sarjana pada program studi Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan.

 


[1]Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: PT Raja Grapindo persada, 2011), Hlm. 2.

[2]Suparlan,  Tanya Jawab Pengembangan dan Kurikulum Materi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara,  2011), Hlm. 20.

[3]Farida Sarimaya, Sertifikasi Guru, Apa, Mengapa dan Bagaimana, (Bandung: Yrama Widya, 2008), Hlm. 113.

[4]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), Hlm. 75.

[5]Ahmad Yani, Panduan Menjadi Teknisi Komputer, (Jakarta: Kawan Pustaka, cet, ke 12, 2008), Hlm. 1.

[6]Rudi susilana. dan Cepi Riyani., Media Pembelajaran, Hakekat, Pengembangan, Pemanfatan Dan Penilaian, (Bandung: CV Wacana Prima, 2008), Hlm. 6.

[7]Pupuh Fathurrahman dan Sobry sutikno, Strategi Belajar Mengajar Melalui Konsep Umum dan Konsep Islami, (Bandung PT Rafika Aditama, 2007), Hlm. 125.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 1, 2012 in Uncategorized