RSS

PENGARUH PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP KETAATAN SISWA PADA PERATURAN SEKOLAH DI MADRASAH TSANAWIYAH AL – MUJAHIDIN DESA LAHANG BARU KECAMATAN GAUNG

18 Jun

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Belajar adalah usaha untuk dapat mengerti dunia. Untuk melakukan ini, kita menggunakan semua alat mental kita. Caranya adalah, kita berpikir tentang situasi, sama baiknya kita berpikir tentang kepercayaan, harapan, dan perasaan kita yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada dilingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan manusia atau hal-hal yang dijadikan bahan belajar, tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar.[1]

Adapun belajar menurut Oemar Hamalik adalah ”Modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”.[2]

Belajar mengajar sebagai suatu proses merupakan suatu sistem yang tidak terlepas dari komponen-komponen lain yang selalu berinteraksi didalamnya. Salah satu komponen dalam proses tersebut adalah metode pembelajaran. Setiap guru yang akan mengajar, harus selalu membuat perencanaan, salah satu yang harus dilakukan adalah mampu membuat peserta didik senang dengan suasana belajar, melalui metode yang menarik. Penggunaan metode belajar bertujuan membantu guru dalam menyampaikan materi agar mudah di tangkap oleh peserta didiknya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi motivasi yang kuat dalam proses belajar anak.

Peran Guru dalam kegiatan pembelajaran di sekolah relatif tinggi, peran guru tersebut terkait dengan peran siswa dalam belajar. pada jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama dan Sekolah lanjutan tingkat atas peran guru tergolong tinggi, bila siswa menyadari betapa pentingnya belajar bagi hidupnya dikemudian hari. Adanya gejala membolos sekolah, malas belajar, senda gurau ketika guru menjelaskan bahan ajar sukar misalnya, merupakan ketidak sadaran siswa akan belajar.[3]

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar, para guru sering lupa melihat aspek psikologi peserta didik, khususnya tahap perkembangan kognitif peserta didik. Proses pembelajaran kadang tidak disukai dan ditangkap oleh peserta didik karena tidak sesuai dengan suasana yang peserta didik inginkan di usianya. Pembelajaran yang tidak memperhatikan kondisi perkembangan kognitif peserta didik cenderung hanya sekedar melaksanakan rutinitas belaka.

Mata pelajaran Fiqih sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik demi mendukung kemampuan seseorang dalam hal hukum Islam. Fiqih berfungsi sebagai landasan seorang muslim apabila akan melakukan praktek ibadah, oleh karena itulah mata pelajaran fiqih penting mendapat perhatian yang besar bagi seorang anak di usia dini, agar kedepannya dia akan terbiasa menjalankan kehidupan sesuai dengan hukum Islam yang ada.

Di lihat dari segi ilmu pengetahuan yang berkembang dalam kalangan ulama Islam, fiqih itu ialah ilmu pengetahuan yang membicarakan hukum Islam  yang bersumber dari Al-qur’an, sunnah dan dalil-dalil syar’i yang lain.[4]

Pembelajaran fiqih membantu siswa untuk meningkatkan ketaatan pada peraturan sekolah, dikarenakan fiqih adalah materi yang secara substansial sangat penting, karena fiqih adalah pedoman hidup umat yakni berhubungan dengan aktifitas sehari-hari dan berkaitan dengan hukum-hukum pelaksanaan sehari-hari, misalnya hukum shalat, puasa, dan masih banyak lagi. maka ilmu-ilmu yang berkaitan dengan fiqih harus dikembangkan dan di kemas dengan baik dan menarik. Karena ilmu ini sangat penting sekali dalam penerapan hukum-hukum didalam islam. Pengaruh yang ditimbulkan oleh pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa akan mendorong siswa untuk belajar fiqih baik secara berkelompok maupun secara individu. Dengan demikian siswa yang tidak menyukai pelajaran ini akan terdorong oleh temannya untuk mempelajarinya.

Berdasarkan studi pendahuluan yang penulis lakukan dapat diketahui bahwa guru-guru dan siswa di Sekolah Madrasah Tsanawiyah Al Mujahidin Desa Lahang Baru Kecamatan Gaung sudah melakukan tugasnya sebagaimana mestinya, namun dalam pelaksanaan tersebut masih  terdapat permasalahan yang dapat di lihat dari gejala-gejala berikut ini:

  1. Guru fiqih masih jarang dalam pembelajaran menggunakan alat peraga yang sudah tersedia.
  2. Guru fiqih masih jarang dalam proses belajar mengajar memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
  3. Guru fiqih belum membuat program pembelajaran.
  4.  Masih ditemukan siswa yang kurang memahami tentang peraturan sekolah.
  5. Masih ditemukan siswa yang belum mentaati peraturan sekolah.

Dari permasalahan tersebut, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian dengan mengangkat judul “PENGARUH PEMBELAJARAN FIQIH TERHADAP KETAATAN SISWA PADA PERATURAN SEKOLAH DI MADRASAH TSANAWIYAH AL MUJAHIDIN DESA LAHANG BARU KECAMATAN GAUNG”.

 

B. Asumsi dan Hipotesa

1.    Asumsi

Adapun pengertian asumsi atau anggapan dasar menurut Winarno Surakhmad seperti yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto adalah “Sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya di terima oleh penyelidik”.[10]

Adapun Asumsi dari penelitian ini adalah sebagai berikut;

a.    Pembelajaran fiqih.

b.    Ketaatan siswa pada peraturan sekolah

c.    Pengaruh pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan Sekolah.

2.    Hipotesa

Adapun pengertian Hipotesa menurut S. Nasution, adalah “pernyataan tentative yang merupakan dugaan atau terkaan tentang apa saja yang kita amati dalam usaha untuk memahaminya”.[11]

Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H:  Ada pengaruh yang signifikan antara pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan sekolah.

H:  Tidak ada pengaruh yang signifikan antara pembelajaran fiqih terhadap ketaatan siswa pada peraturan sekolah.

 


[1]Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), Hlm. 7.

[2]Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi aksara, 2010), Hlm. 27.

[3]Dimyati dan Mudjiono, Op.Cit. Hlm. 33.

[4]Zakiah Daradjat dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), Hlm. 78.

[5]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 2002), Hlm. 747.

[6]Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005), hal, 17

[7]Wirawan Sarlito, Teori-Teori Psikologi Sosial, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2003), Hlm. 54.

[8]Kelvin seifert, Manajemen Pembelajaran & Instruksi Pendidikan, (Jogjakarta: IRCISoD, 2003), Hlm. 221.

[9]Zakiah Daradjat, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008. Hlm. 104.

[10]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010), Hlm. 104.

[11]S. Nasution, Metode Reseach (Penelitian Ilmiah), (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), Hlm. 39.


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 18, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: